Mari Pulihkan Jiwa Bersama Ruang Pulih

 
Ruang pulih


"Emosi yang tidak terekspresikan tidak akan pernah mati. Mereka dikubur hidup-hidup dan akan tampil dengan cara yang lebih buruk (Sigmund Freud) - dalam buku Luka, Performa, Bahagia: Mengenal Inner Child, Menemukan Jatidiri.

Setiap manusia pasti punya pengalaman hidupnya masing-masing entah itu yang selalu lempeng tanpa ada hambatan maupun pernah merasakan luka batin. Rasanya kalau lempeng-lempeng saja kok mustahil ya. Saya dulu ketika kelas 5 SD ada masalah dengan pelajaran matematika yang tak kunjung mengerti saja seolah-olah hal itu merupakan ujian terbesar dalam hidup saya. Aneh kan!

Ketika saya berada di bangku SD selalu ingin banget cepat dewasa agar tak perlu mengerjakan PR, tak perlu bertemu dengan temen sekolah yang toxic (kala itu saya tidak tahu dengan istilah toxic) dan segala tetek bengek lainnya yang meresahkan hati ketika berangkat sekolah. 

Kemudian saya beranjak dewasa sampai pada titik di usia hampir menginjak kepada 3 dimana ingin kembali menjadi anak SD saja karena menjadi anak SD tidak perlu memikirkan urusan orang dewasa seperti genteng bocor, engga punya uang dan lain sebagainya.


Profil Pemateri Webinar

Kalau dirasa-rasa lucu juga ya hidup ini, selalu saja ada dimana kita berada pada suatu titik yang tidak ingin menjadi diri yang sekarang. Padahal diri yang sekarang ini adalah suatu perjalanan hidup yang diraih dengan tidak mudah. Penuh liku dan batu terjal juga dalam meraih sesuatu yang mungkin belum dianggap berhasil dan sukses namun here we are.

Sama halnya ketika saya memutuskan untuk bergabung, lebih tepatnya diberi kesempatan bersama beberapa blogger lainnya mengikuti parade Webinar yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih dalam rangka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik serta menyembuhkan luka di masa kecil apabila ada.

"Orang yang bisa menerima dirinya apa adanya, mencintai dirinya apa adanya, akan mudah melihat cinta dimana-mana" (Intan Maria Halim, Hal 56 Buku Luka, Performa, Bahagia: Mengenal Inner Child, Menemukan Jatidiri)

Sepenggal tulisan dari Mba Intan Maria ini sangat menohok pikiran saya karena mungkin selama ini saya masih belum bisa melihat cinta dimanapun. Selalu ada sekat-sekat dalam hidup yang kadang penuh rasa curiga bahkan ke dalam diri sendiri.

Parade webinar yang diselenggarakan oleh Ruang Pulih kedua kalinya menghadirkan narasumber Bapak Prasetya M Brata dimana semenjak saya follow akun Instagram beliau, kok rasanya tidak pernah berhenti untuk melihat segala postingan yang selalu memberi motivasi dalam hidup ini.

Saya akan sedikit merangkum apa yang telah disampaikan Bapak Prasetya M Brata dalam webinar yang diselenggarakan pada 22 Agustus 2021.

Insight Dari Materi Bapak Prasetya M Brata

Sejatinya manusia merupakan pemimpin atas dirinya sendiri. Wah, jika dari statement beliau ini artinya selama ini saya sendiri pun belum bisa memimpin diri sendiri. Masih banyak ego yang muncul entah itu amarah, overthinking dan lain sebagainya tanpa bisa menahannya artinya kan saya belum mampu memimpin diri sendiri.

Karena kejadian di masa lalu, terkadang seorang manusia menjadi dipimpin oleh pikiran di masa lalu padahal seharusnya kitalah yang memimpin pikiran tersebut. Manusia pun diberi kemampuan mencipta tanpa MAHA karena MAHA itu hanya kepunyaan Tuhan. Selain itu manusia juga diberi kemampuan untuk memberi makna.

Menurut Bapak Prasetya M Brata hidup itu adalah risiko. Apapun keputusan yang kita ambil selalu ada risiko yang harus dihadapi, bahkan ketika berada di dalam rumah pun risiko bisa saja mengintai. 

Jika kita ingin orang lain patuh pada diri kita namun kita sendiri sering tidak patuh pada diri sendiri sehingga mungkin jika hal itu terjadi para beberapa orang dengan jabatan tertentu maka seharusnya hal ini bisa jadi introspeksi seberapa besar keakraban kita dengan diri sendiri.

Mungkin kedengarannya sesuatu hal yang aneh, "kok bisa sih berusaha akrab dengan diri sendiri, kan kita ini sudah menyatu dengan diri" dan ternyata memang tak sesimple pemikiran kebanyakan orang.

Saya merasa jika memiliki perasaan minder, takut mengecewakan orang lain dan segala perasaan overthinking lainnya maka artinya saya belum mengenal diri sendiri seutuhnya. 


Pemateri Ibu Fena Wijaya

Insight Dari Mbak Fena Wijaya

Pemateri kedua diisi oleh Mbak Fena Wijaya yang menurut saya lugas dalam penyampaian dan selalu masuk akal dalam setiap analogi yang beliau gunakan. Beliau merupakan seorang life coach dan hypnotherapy. 

Bahwa kata kunci dalam hidup ini adalah HADIR, yaitu seberapa banyak diri kita hadir dalam pikiran kita. Jika kita mengalami masa kecil yang penuh dengan judgement maka hal tersebut bisa menempel pada diri kita sampai dewasa.

Misalnya ada orang tua yang menganggap dengan memukul anaknya ketika kecil diangap sebagai rasa sayang, maka ketika dewasa anak akan menganggap yang namanya sayang adalah dengan memukul padahal sejatinya tidak demikian. Bagaimana jika setiap tindakan kekerasan dianggap sebagai bentuk kasih sayang, wah bisa-bisa dalam suatu rumah tangga isinya KDRT melulu donk.

Jika kita terlalu fokus pada kekhawatiran dalam hidup maka akan sulit bagi kita memiliki energi positif. Saya merasa apa yang dikatakan coach Fena hampir semuanya benar. Ada beberapa contoh yang beliau utarakan, misalnya:
  1. Orang tua yang terlalu khawatir dengan anak yang tidak mampu sukses di masa depannya tanpa sadar akan membentuk lingkaran ketakutan dan bisa jadi si anak tidak akan sukses selamanya jika dipenuhi oleh energi negatif dari orang tua.
  2. Jika kita terlalu kuatir dan takut dengan pandemi yang saat ini sedang terjadi maka selamanya akan hidup dalam ketakutan dan itu akan terus menghantui kita.
  3. Misal kita sedang makan makanan yang kebetulan tidak enak, lalu kita memberi judgement pada makanan tersebut maka yang kita makan sebenarnya bukan makanannya namun penghakimannya.
Sungguh energi yang ada dalam hidup kita akan membawa pengaruh sangat besar loh, teman-teman. Jadi sedapat mungkin milikilah energi positif akan di sekeliling kita juga ikut merasakan energi baik itu.

Penutup

Akhir kata ijinkan saya mengajak teman-teman pembaca blog ini untuk selalu menebarkan energi positif. Mungkin tidak mudah apalagi perempuan selalu memiliki siklus bulanan yang menyebabkan dirinya mudah naik turun dalam mengatur mood. Saya pun belum bisa selalu menjadikan hari-hari dalam pusaran energi positif namun selama masih ada kemauan maka disitulah ada jalan terbuka lebar.

Tidak mudah memang mengubah paradigma seseorang yang dulunya sering mendapat judgement bukan hanya dari keluarga namun juga lingkungan sekitar, namun ingatlah apa yang disampaikan Bapak Prasetya M Brata bahwa kita adalah manusia yang menjadi pemimpin diri sendiri. Maka sedapat mungkin pimpinlah diri kita dari emosi yang tidak terkendali maupun perasaan negatif lainnya.

Mari bertumbuh bersama menjadi pribadi yang lebih baik!


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak